Sebelummeluncurkan papan nama memakai aksara Bali di Pura Besakih, terlebih dahulu dilakukan peluncuran di Kantor PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar, pada Jumat (5/10) sore. Ketua PHDI Bali, Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi mengapresiasi peraturan gubernur tersebut. Ini dinilai sebagai komitmen memuliakan aksara, bahasa, dan sastra Bali yang
4 Nglaksanayang parikrama kelompok belajar alit-alit TK Negeri Bondalem 5. Ngaryanin plang papan nama ulang pemerintahan Desa Bondalem dwi aksara 6.Nyarengin parikrama pasraman werdhi sesane Desa Bondalem, indik materi nyastra aksara bali. Pasraman puniki klaksanayang 3 hari seminggu. 7. Nglaksanayang rapat rutin penyuluh kecamatan tejakula.
AksaraBali di Papan Nama Kantor Banyak Keliru. BALI TRIBUNE - Belum lama diresmikan penulisan aksara Bali di papan nama kantor instansi atau pemerintahan dan fasilitas publik di Klungkung, Jumat (5/10) lalu ternyata ditemui masih banyak keliru, dan dituding tidak sesuai pakem.
AncyQ. Suatu sore beberapa bulan lalu, teman saya yang berada di Surabaya menge-tag saya pada sebuah cuitan yang sempat menjadi meme sesaat. Meme itu berupaya menggambarkan sebuah ironi adanya truk penyuplai air bersih di gerbang Pelabuhan Benoa dan terekam di Google Street View. Jika merunut pada informasi yang tersedia di situs tersebut, kru Google Street View memotret lokasi pada September 2019. Fokus saya tertuju pada papan nama pelabuhan. “Port of Benoa Bali” dengan tulisan aksara Bali di atasnya. Gaya-gaya papan nama yang terinspirasi desain papan nama bertuliskan “I amsterdam” di depan Rijksmuseum di Amsterdam, Belanda. Saya mencoba membaca tulisan aksara Balinya, satu-satunya hal yang saya masih ingat tentang bahasa Bali dari pelajaran bahasa Bali saat SD dulu. “pot op benowa bali” “pot op benowa bali”? Saya tidak mempermasalahkan “op” karena aksara “pa” kadang digunakan untuk menulis suatu nama atau kata yang menggunakan huruf “f” jika ditulis dalam alfabet Latin. Pun tidak masalah dengan “benowa” karena hanya masalah pelafalan saja. Namun apakah “pot” sebuah kata dalam bahasa Bali yang bermakna “pelabuhan”? Beruntung sekarang ada Wikipedia Bahasa Bali. Saya coba meng-cross-check nama tempat tersebut di sana. Hasilnya, nama yang benar dalam aksara Bali seharusnya Labuhan Benowa. Sebelumnya, isu serupa juga pernah terjadi dengan papan nama Bandara Ngurah Rai yang dipasang di atas terminal domestik dan turut dikritisi oleh akademisi dari Universitas Udayana. Gubernur Wayan Koster berjanji akan memperbaiki tulisan yang salah tersebut, tetapi tidak diketahui apakah hal tersebut telah dilakukan atau belum. Yang jelas, ada satu lagi papan nama Bandara Ngurah Rai, yakni terletak di gerbang masuk bandara, dan aksara Balinya masih terbaca “i gusti ngurah rai airpot” berdasarkan unggahan foto akun resmi I Gusti Ngurah Rai Airport di Instagram pada 30 Januari 2020 lalu. Apakah “bandara” dalam bahasa Bali menjadi “airpot”? Apakah masih ada lagi papan nama tempat dengan aksara Bali yang dibuat asal-asalan seperti ini? Pemburu giveaway, pejalan kaki, pengguna angkutan umum bilamana memungkinkan
Karangasem, IDN Times - Sejak dikeluarkannya Peraturan Gubernur Bali tentang penggunaan aksara, bahasa, dan sastra Bali, sejumlah instansi pemerintah maupun non pemerintah terlihat melakukan peluncuran nama menggunakan aksara Bali diikuti aksara di kantor Parisadha Hindu Dharma Indonesia PHDI Provinsi Bali. Selain di kantor, majelis tertinggi umat Hindu itu juga melakukan peluncuran yang sama di Pura Peluncuran diawali di Kantor PHDI Times/Istimewa Baca Juga 7 Makna Ritual Siklus Kehidupan Orang Bali yang Akan Dipawaikan di IMF Sebelum meluncurkan papan nama memakai aksara Bali di Pura Besakih, terlebih dahulu dilakukan peluncuran di Kantor PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar, pada Jumat 5/10 sore. Ketua PHDI Bali, Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi mengapresiasi peraturan gubernur tersebut. Ini dinilai sebagai komitmen memuliakan aksara, bahasa, dan sastra Bali yang merupakan kekayaan daerah."Aksara, bahasa, dan sastra Bali adalah kearifan lokal serta sumber adat istiadat yang dimiliki masyarakat Bali. Ini merupakan permulaan dari program yang selama ini didengung-dengungkan tentang pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali,” Peluncuran dilanjutkan di Pura Besakih sebagai pusat peradaban Times/Istimewa Setelah peluncuran di kantor PHDI Bali, kegiatan serupa langsung dilanjutkan di Pura Besakih. PHDI sebagai majelis tertinggi umat Hindu merasa bertanggung jawab terhadap peluncuran penamaan menggunakan aksara Bali di Pura Besakih sebagai pusat peradaban dengan PHDI Kabupaten/Kota, sulinggih, pemangku serta masyarakat setempat, peluncuran penamaan papan nama di Pura Besakih diisi dengan silahturahmi dan sembahyang bersama."Besakih adalah mother temple of Bali. Selanjutnya akan diteruskan di pura-pura lainnya yang ada di Bali. Mulai dari Besakih, semoga aksara Bali yang mengandung muatan religi akan semakin metaksu," Dalam Hindu Bali, aksara dan sastra Bali digunakan di setiap upacara Times/Istimewa Aksara dan sastra Bali, menurut Sudiana, selama ini selalu digunakan dalam setiap upacara keagamaan di Bali. Hal ini karena aksara Bali tidak saja memiliki kekuatan material, namun juga kekuatan magis."Dalam setiap upacara Panca Yadnya, aksara dan sastra Bali tidak pernah lepas. Begitu juga komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa Bali. Karena itu, inisiatif pemerintah provinsi Bali ini harapannya bisa menjadi jawaban atas kegalauan dari berbagai kalangan mengenai aksara, bahasa, dan sastra Bali yang dikhawatirkan memudar," Peraturan Gubernur ini diharapkan menambah gairah melestarikan aksara, bahasa, dan sastra Times/Istimewa Baca Juga 1500 Seniman Bali Dilibatkan Dalam Pawai Budaya IMF-WB Sudiana berharap, peraturan gubernur yang baru ini bisa menambah gairah masyarakat Bali untuk mempertahankan aksara, bahasa, dan sastra Bali sebagai bahasa ibu dan kekayaan jika generasi sekarang dan masa mendatang sampai kehilangan aksara, bahasa, dan sastra Bali, maka adat istiadat perlahan akan turut hilang. Bahkan generasi mendatang bisa kehilangan identitas."Jika kita kehilangan identitas dan akhirnya dipengaruhi oleh identitas yang baru, maka secara otomatis akan kehilangan sejarah dan aktualisasi diri. Karena itu kami juga berharap, peraturan ini tidak berhenti sampai di sini. Pemerintah Provinsi Bali juga kami harapkan mengangkat lebih banyak lagi penyuluh Bahasa Bali, Guru Bahasa Bali, dan mendirikan tempat-tempat untuk kursus Bahasa Bali,” harapnya.
Ayu Kristi Arya Wibawa Launching Papan Nama Banjar dan Pura dengan Aksara Bali di Desa Padangsambian Klod. Sumber Foto Istimewa DENPASAR – Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa bersama Ketua Gatriwara Kota Denpasar, Ni Made Ayu Purnawati dan Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana melaunching papan nama banjar dan pura dengan aksara Bali di Desa Padangsambian Klod, Sabtu 6/8/2022. Setelah itu dilanjutkan dengan meninjau pelaksanaan kegiatan Diklat Keterampilan Kuliner bagi pelaku UMKM se-Desa Padangsambian Klod. Dalam kesempatan itu Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa memberikan apresiasi atas inovasi Desa Padangsambian Klod, untuk melakukan kegiatan pasca pandemi Covid-19. “Semoga kegiatan ini dapat berkelanjutan dan bermanfaat untuk masyarakat Kota Denpasar khususnya Desa Padangsambian Klod,” kata Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa. Perbekel Desa Padangsambian Klod, Gede Wijaya Saputra mengatakan, papan nama banjar dan pura di Desa Padangsambian Klod yang dilaunching adalah dengan aksara Bali sesuai dengan Pergub No. 80 tahun 2018, tentang Pelindungan dan Pelestarian Sastra dan Aksara Bali. Menurutnya papan nama dengan aksara Bali merupakan kesungguhan komitmen dalam memuliakan aksara Bali sehingga telah mendapat sambutan positif dari seluruh lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swasta dan masyarakat luas. Selain launching papan nama dalam kesempatan itu Wijaya Saputra mengaku pihaknya juga melaksanakan kegiatan Diklat ketrampilan kuliner bagi pelaku UMKM se-Desa Padangsambian Klod. Kegiatan ini yang bertujuan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat berlangsung selama 5 hari di Balai Banjar Jaba Pura. Dimana 34 UMKM dalam diklat ini diberikan pelatihan cara meningkatkan perekonomian langsung dari Bali Chep Community. “Kegiatan ini terlaksana juga atas kerjasama Dinas Koperasi & UMKM Provinsi Bali, BCC Bali chef Community dan Desa Padangsambian Klod,” jelasnya. Dengan kegiatan ini diharapan dapat memberikan dorongan meningkatkan perekonomian dan meningkatkan usaha dan tidak perlu tempat khusus.bpn
Aksara Bali - Bali Portal News DENPASAR – Semenjak diberlakukaannya Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa Bali, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, dimana plang nama jalan dan nama kantor yang ada di Bali wajib dilengkapi Aksara Bali di atas huruf Latinnya. Hingga saat ini, banyak yang masih keliru dalam penulisan Aksara Bali untuk nama-nama fasilitas publik seperti nama jalan maupun nama kantor. Baik itu karena kurangnya sumber daya atau kurangnya pengetahuan tentang tata cara penulisan Aksara Bali yang sudah mengalami penyempurnaan atau perubahan dari ahlinya. Dosen Prodi Sastra Bali FIB Unud I Gde Nala Antara, saat diwawancarai Kamis 19/3/2020 menjelaskan perubahan tata cara penulisan Akasara Bali untuk nama-nama fasilitas publik dilakukan agar papan nama mudah dibaca dan dimengerti oleh pembaca ataupun wisatawan. “Tujuannya adalah untuk mempermudah dibaca, sehingga papan nama menjadi lebih komunikatif. Hal itu juga untuk mengembangkan Aksara Bali kepada dunia luar, jadi yang bukan orang Bali ketika melihat papan nama yang berisi Aksara Bali dapat membandingkannya dengan huruf Latin di bawahnya,” jelasnya. Dijelaskan pula, sesuai dengan Pesamuan Alit Basa Bali tahun 2019 yang dihadiri oleh guru, praktisi dan para ahli itu menyepakati bahwa penulisan nama fasilitas publik harus menggunakan pasang jajar palas terpisah-pisah dengan menggunakan adeg-adeg untuk kata yang diakhiri oleh konsonan. Seperti diketahui, penggunan adeg–adeg berfungsi untuk mematikan aksara yang ditulis pada akhir kata, diakhir frase yang diakhiri konsonan dan bagian kalimat atau kalusa yang nengen diakhiri konsonan. I Gde Nala Antara, Dosen Prodi Sastra Bali, FIB Unud “Adeg-adeg dari dulu sebenarnya sudah digunakan ditengah-tengah kalimat yaitu untuk menghindari pasang aksara yang bertumpuk tiga. Dalam pasang aksara kita, aksara itu tidak diperkenankan bertumpuk tiga, terutama untuk gantungan “la“, tetapi untuk gantungan nania, suku kembung maupun guwung masih diperbolehkan,” tambah Gde Nala. Selain itu, penggunaan adeg-adeg ditengah kalimat bertujuan untuk menghindari salah perngertian atau salah baca, misalnya kalau dulu ada istilah ngemit rain ida atau ngemitrain ida, I Ketu Tuara atau I Ketut Wara. Sehingga pengguaan adeg-adeg diperbolehkan untuk kalimat tersebut. “Untuk penulisan lontar, buku bacaan di sekolah masih tetap menggunakan pasang jajar bersambung, khusus untuk nama fasilitas publik penulisan aksara Bali harus menggunakan “pasang jajar palas” dan yang paling penting yang ditulis/disalin adalah suara/bunyi tulisan itu, bukan tulisan/huruf Latinnya,” tutup Gde Nala.tis/bpn 
DENPASAR, – Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa bersama Ketua Gatriwara Kota Denpasar Ni Made Ayu Purnawati dan Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana melaunching papan nama banjar dan pura dengan aksara Bali di Desa Padangsambian Klod Sabtu 6/8 Setelah itu dilanjutkan dengan meninjau pelaksanaan kegiatan Diklat Keterampilan Kuliner bagi pelaku UMKM se Desa Padangsambian Klod. Dalam kesempatan itu Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa memberikan apresiasi atas inovasi Desa Padangsambian Klod, untuk melakukan kegiatan pasca pandemi covid 19. “Semoga kegiatan ini dapat berkelanjutan dan bermanfaat untuk masyarakat Kota Denpasar khususnya Desa Padangsambian Klod,” kata Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa Perbekel Desa Padangsambian Klod Gde Wijaya Saputra mengatakan, papan nama banjar dan pura di Desa Padangsambian Klod yang dilaunching adalah dengan aksara Bali sesuai dengan Pergub tahun 2018, tentang pelindungan dan pelestarian sastra dan aksara Bali. Menurutnya papan nama dengan aksara Bali merupakan kesungguhan komitmen dalam memuliakan aksara Bali sehingga telah mendapat sambutan positif dari seluruh lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swasta dan masyarakat luas. Selain launching papan nama dalam kesempatan itu Wijaya Saputra mengaku pihaknya juga melaksanan kegiatan Diklat ketrampilan kuliner bagi pelaku UMKM se Desa Padangsambian Klod. Kegiatan ini yang bertujuan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat berlangsung selama 5 hari di Balai Banjar Jaba Pura. Dimana 34 UMKM dalam diklat ini diberikan pelatihan cara meningkatkan perekonomian langsung dari Bali Chep Community. ” Kegiatan ini terlaksana juga atas kerjasama Dinas Koperasi & UMKM Provinsi Bali, BCC Bali chef Community dan Desa Padangsambian Klod,” jelasnya. Dengan kegiatan ini diharapan dapat memberikan dorongan meningkatkan perekonomian dan meningkatkan usaha dan tidak perlu tempat khusus.DT.
papan nama pura aksara bali